eksistensi
EKSISTENSI
1.
Pengertian Eksistensi
Kata dasar eksistensi (existency) adalah
exist yang berasal dari kata latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri . jadi, eksistensi adalah
berdiri dengan keluar dari diri sendiri.
Pikiran semacam ini dalam bahasa jerman disebut dasein . Da berarti disana , sein berarti
berada . Berada bagi manusia selalu berarti disana , di tempat. Tidak mungkin
ada manusia tidak bertempat . bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani .
akan tetapi , bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu
ataupun pohon . manusia selalu sadar akan tempatnya . dia sadar bahwa dia
menempati . ini berarti suatu kesibukkan , kegiatan , melibatkan diri. Dengan
demikian , manusia sadar akan dirinya sendiri . jadi, dengan keluar dari
dirinya sendiri manusia sadar dengan dirinya sendiri ; ia berdiri dengan aku
atau pribadi.
(PROF.DR. AHMAD TAFSIR 1990:Hal ,217-218)
Filsafat eksistensi tidak sama persis
dengan filsafat eksistensialisme (Hasan, 1974:7). Yang dimaksud dengan filsafat
eksistensi adalah benar benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat yang
menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral (Hasan, 1974;7). Ini adalah
satu ragam filsafat. Tokoh-tokoh yang dapat digolongkan ke dalam filsafat
eksistensi telah banyak terdapat sebelum lahirnya filsafat eksistensialisme.
Adapun yang dimaksud dengan filsafat eksistensialisme, rumusnya lebih sulit
daripada eksistensi .
Sejak
muncul filsafat eksistensi, cara wujud manusia telah dijadikan tema central
pembahasan filsafat, tetapi belum pernah ada eksistensi yang radikal
menghadapkan manusia kepada dirinya
seperti pada eksistensialisme.
(PROF.DR. AHMAD TAFSIR 1990:Hal ,218)
2. Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat adalah suatu perjalan dari suatu krisis ke
krisis lainnya . ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau
kembali dirinya. Bahwa dalam ilmu filsafat eksistensi manusia tegas-tegas
dijadikan teman sentral, menunjukkan bahwa di tempat itu (barat) sedang
berjangkit suatu krisis yang luar biasa hebatnya (Beerling, 1966:211-12).
Sifat materialisme ternyata merupakan pendorong lahirnya
eksistensialisme. Yang dimaksud eksistensi adalah cara orang berada di dunia.
Bagaimana pandangan materialisme tentang manusia? Dalam pandangan materialisme
baik yang kolot maupun yang modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda
seperti halnya kayu dan batu.
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain
tidaklah sama . manusa berada di dunia ; sapi dan pohon juga . akan tetapi, cara
beradanya tidak sama.
Lalu, dimana kesalahan materialisme ? Rene Le Senne,
seorang existentialis, merumuskan keslahan materialisme itu secara singkat :
kesalahan itu ialah detotalisasi. De artinya memungkiri, total artinya seluruh . maksudnya, memungkiri
manusia sebgaai keseluruhan . (Drijarkara, 1966:57-60)
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap
idealisme. Meterialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang
hakikat yang eksterm . kedua-duanya berisi benih kebenaran , tetapi keduanya
juga salah . eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas
itu. Bibit idealisme telah ada sejak plato, tetapi pembuka jalan bagi idealisme yang sunggguh-
sungguh adalah Descartes. Dalam pandangan Descartes, manusia itu disamakan saja
dengan kesadarannya. Letak keslaahan idealisme adalah karena memandang manusia
hanya sebagai subjek. Hanya sebagai kesadaran. Sebaliknya, materialisme hanya
melihat manusia sebagai objek. Materialisme lupa bahwa barang di dunia ini
disebut objek lantaran adanya subjek . dalam
sesuatu itu terdapat hal yang aneh terjadi : materialisme dan idealisme sama-sama salah .
eksistensi juga didorong munculnya olah situasi dunia pada umumnya . secra umum
dapatlah dikatakan bahwa keadaan dunia waktu itu tidak menentu . rasa takut
berkecamuk , terutama pada ancaman perang . tingkah laku manusia telah
menimbulkan rasa muak atau mual . nilai sedang mengalami krisi, bahakan
manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Maka dari proses itu tampilah
eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek dan sekaligus objek.
Manusia dijadikan tema sentral dalam perenungan.
(PROF.DR. AHMAD TAFSIR 1990:Hal ,219-222)
3. Eksistensi dalam pemkiran tokohnya
a.
Soren Kierkegaard (1813-1855)
Suatu reaksi terhadap idealisme yang sama sekali berbeda dari reaksi
materialisme ialah yang berasal dari pemikiran denmark yang bernama Soren
Kierkegaard. Menurut Kierkegaard, filsafat tidak merupakan suatu
sistem, tetapi suatu pengekspresian
eksistensi individual.
Pertama Kierkegaard memberikan kritik terhadap Hegel. Ia berkenalan dengan
filsafat Hegel ketika belajar tologi di universitas Kopenhagen. Keberatan utama
yang diajukan oleh kierkegaard kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan
eksistensi yang konkret karena ia mengutamakan idea yang sifatnay umum .
menurut Kierkegaard , manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”,
tetapi sebagai “aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat
dijabarkan ke dalam suatu yang lain.
Dengan demikian Kierkeegaard memperkenalkan istilah “eksistensi” dalam
suatu arti yang mempunyai peran besar pada abad
ke-20. Hanya manusia yang mempu beriksistensi , dan eksistensi saya
tidak saya jalankan satu kali untuk selamanya, tetapi pada setiap saat
eksistensi saya menjadi objek pemilihan baru. Bereksistensi ialah bertindak.
Karya kierkegaard menjadi sumber yang penting sekali untuk filsafat abad
ke-20, yang disebut eksistensialisme. Karenanya sering disebut bahwa
Kierkegaard adalah bapak filsafat eksistensialisme. Akan tetapi, anehnya,
eksistensialisme abad ke-20 tidak jarang beraliran ateis, padahal kierkegaard seorang
penganut kristen (lihat Bertens, 1979:83-85).
(PROF.DR. AHMAD TAFSIR 1990:Hal ,222-223)
Tahap-tahap eksistensi manusia :
1. Tahap estetis
Tahap estetis adalah tahap dimana orientasi hidup manusia sepenuhnya
diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Pada saat ini manusia dikuasai oleh
naluri-naluri seksual (libido), oleh prinsip-prinsip kesenangan yang
hedonistik, dan biasanya bertindak menurut suasana hati (mood). Kierkegaard
mengambil sosok Don Juan sebagai model manusisa estetis. Don Juan hidup sebagai
hedonis yang tidak mempunyai komitmen dan keterlibatan apapun dalam hidupnya.
Ia tidak mempunyai passion dalam menyikapi dan menindaklanjuti suatu
persoalan.
Manusia estetis pun adalah manusia yang hidup tanpa jiwa . ia tidak
mempunyai akar dan isi dalam jiwanya . kemauannya adalah mengikatkan diri pada
kecnderungan masyarakat dan zamannya. Jiwa estetis mereka tampak dari pretensi
merreka untuk menjadi “penonton objektif” kehidupan .
(ZAINAL ABIDIN 2000 :Hal ,134-135)
2. Tahap etis
Memilih hidup dalam tahap etis berarti mengubah pola hidup yang semula
estetis menjadi etis. Ada semacam
perobatan disini , dimana individu mulai menerima kebijakan-kebijakan moral dan
memilih untuk mengikatkan diri kepadanya. Dalam kaitannya dengan perkawinan,
manusia etis sudah bisa menerimanya . perkawinan merupakan tahap awal
perpindahan eksistensi estetis ke eksistensi etis. Lain dari itu , jiwa individu etis sudah
mulai terbentuk , sehingga hidupnya tidak bergantung lagi pada masyarakat dan
zamannya. Manusia etis pun akan sanggup menolak tirani atau kuasa dari luar ,
baik bersifat respresif maupun
nonrespresif, sejauh tirani atau kuasa itu tidak sejalan dnegan apa yang
diyakininya. Oleh sebab itu , sosok yang dipilih Kierkegaard sebagai model dari
hidup etis adalah socrates . socrates adalah manusia yang sudi mengorbankan
hidupnya dengan minum racun, untuk mempertahankan kayakinan mengenai nilai
kemanusiaann yang sangat luhur .
(ZAINAL ABIDIN 2000 :Hal ,135-136)
3. Tahap religius
Lompatan dari tahap etis ke tahap religius jauh lebih sulit dan sublim
daripada lompatan dari tahap estetis ke etis. Tidak di butuhkan alasan atau
pertimbanagn rasional dan ilmiah disini. Yang diperlukan hanyalah keyakinan
subjektif yang berdasarkan pada iman. Hidup dalam tuhan adalah hidup dalam
subjektivitas transenden atau mundane.
Kesulitan atau hambatan yang pertama-tama dijumpai oleh individu pada
saat memutuskan lebur dalam kuasa tuhan adalah paradoksalitas yang terdapat di
dalam tuhan itu sendiri. Tuhan (dan perintah-perintahnya) adalah sesuatu yang
paradoks. Hanya dengan keyakinan subjektif yang berdasarkan pada iman saja
individu bisa menerima paradoks itu.
Sosok ibrahim, yang oleh Kierkegaard ditempatkan sebagai manusia religius
ideal. Dapat membantu kita memahami apa yang dimaksud oleh Kierkegaard dengan
keyakinan subjektiv keyakinan yang berdasarkan iman itu. Ibrahim bersedia
mengorbankan anaknya, atas dasar keyakinan pribadinya , bahwa Tuhan lah yang
memerintahkan untk mengorbankan anaknya itu.
(ZAINAL ABIDIN 2000 :Hal ,135-136)
b.
Jean Paul Sartre (1905-1980)
Pada tanggal 15 april 1980 dunia filsafat dikagetkan oleh berita
meninggalnya seorang filosof besar prancis, tokoh paling penting dalam filsafat
eksistensialisme, yaitu Jean Paul Sartre. Dialah yang menyebabkan
eksistensialisme menjadi tersebar, bahkan menjadi , sekalipun pendiri
eksistensialisme bukan dia, melaikan Soren Aabye
Kierkegard(1813-1855)(kaufmann,1976:192).
Bagi sartre eksistensi manusia mendahului esensinya. Bagaimana sebenarnya
menurut Sartre ?
Filsafat eksistensialisme
membicarakan cara berada di dunia in, terutama cara berada manusia.
Dengan perkataan lain , filsafat ini menempatkan cara wujud-wujud manusia
sebagai tema sentral pembahasannya . cara itu hanya khusus ada pada manusia
karena hanya manusialah yeng beriksistensi . binatang, tetumbuhan, bebatuan
memang ada, tetapi mereka tidak dapat berinteraksi (Drijarkara, 1966:57).
Filsafat eksistensialisme mendamparkan manusia ke dunianya dan menghadapkan
manusia kepada dirinya sendiri (hassan:9).
Sartre adalah filosof eties. Itu dinyatakan secara terang-terangan.
Konsekuensi pandangan eteis itu adalah tuhan tidak ada , atau
sekurang-kurangnya manusia bukanlah ciptaan tuhan . oleh karen itu konsepnya
adalah manusia bukanlah ciptaan tuhan . dari pemikiran ini ia menemukan bahwa
eksistensi manusia mendahului esensinya.
Mulainya manusia bereksistensi ialah sejak ia mengenal dirinya dan dunia
yang dihadapinya. Itu berarti bahwa ia
telah berkesadaran . dari kesadaran itu munculah tanggung jawab .
(ZAINAL ABIDIN 2000 :Hal ,136-138)
Komentar
Posting Komentar