asbabun nuzaul
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menurut
bahasa Asbabun nuzul berasal dari dua kata yaitu asbabun dan nuzul. Asbabun
artinya sebab atau karena, sedangkan nuzul artinya turun. Jadi asbabun nuzul
adalah sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Adapun menurut istilah syara’
Asbabun nuzul adalah suatu hal yang karenanya Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan
suatu hukum pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.
Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebab turunnya suatu ayat itu
berkisar pada dua hal yaitu:
1.
Apabila
terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa
tersebut, seperti kisah turunnya surat Al-Lahab.
2. Apabila Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu
hal, maka turunlah ayat al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya.
Seperti
ketika Khaulah binti Sa’labah dikenakan zihar oleh suaminya Aus bin
Tsamit, hingga Khaulah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hukumnya, maka
turunlah surat Al-Mujadalah ayat 3. Namun tidak semua ayat Al-Qur’an diturunkan
karena adanya suatu peristiwa atau karena suatu pertanyaan. Ada diantara ayat
al-Qur’an yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab. Seperti kewajiban
muslim, mengenai akidah dan syari’at Allah SWT dalam kehidupan umat manusia.[1]
Ibnu Taimiyyah Berkata,”Pengetahuan tentang sebab
turunnya ayat membantu memahami kandungan ayat tersebut. Agar seseorang
dapat mengetahui akibat yang merupakan buah dari sebab tersebut”.
Ada juga yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat diketahui
oleh para sahabat dengan qarinah-qarinah (indikasi-indikasi) pada
berbagai permasalahan yang mengisyaratkan pada sebab turun ayat tersebut. Dan
terkadang sebagian mereka tidak dengan tegas mengatakan bahwa suatu
permasalahan merupakan sebab turun suatu ayat.
Al-Hakim dalam kitab Uluumul
Hadist berkata, “Jika seseorang sahabat yang menyaksikan saat turunnya ayat
memberitahukan bahwa ayat Al-Qur’an tersebut turun pada peristiwa tertentu
maka, itu adalah sebuah hadist yang musnad.”[2]
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Asbabun Nuzul ?
2.
Apa sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an ?
3.
Apa manfaat dan fungsi dari sebab-sebab
ayat-ayat Al-Qur’an
Diturunkan (Asbabun Nuzul) ?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui pengertian Asbabun Nuzul.
2.
Menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat-ayat
Al-Qur’an.
3.
Mengetahui manfaat dan fungsi dari sebab-sebab ayat-ayat
Al-Qur’an dirutunkan.
D.
Manfaat
1.
Memberikan penjelasan tentang pengertian
Asbabun Nuzul
2.
Memberikan pemahaman tentang sebab-sebab diturunkannya
ayat Al-Qur’an.
3.
Memberikan pengetahuan tentang fungsi dari
sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Asbabun Nuzul
Menurut
bahasa Asbabun nuzul berasal dari dua kata yaitu asbabun dan nuzul. Asbabun
artinya sebab atau karena, sedangkan nuzul artinya turun. Jadi asbabun nuzul
adalah sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Adapun menurut istilah syara’
Asbabun nuzul adalah suatu hal yang karenanya Al-Qur’an diturunkan untuk
menerangkan suatu hukum pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun
pertanyaan.
Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebab turunnya suatu ayat itu
berkisar pada dua hal yaitu: Apabila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah
ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa tersebut, seperti kisah turunnya surat
Al-Lahab. Apabila Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah
ayat al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya. Seperti ketika Khaulah binti
Sa’labah dikenakan zihar oleh suaminya Aus bin Tsamit, hingga
Khaulah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hukumnya, maka turunlah surat
Al-Mujadalah ayat 3.
Namun
tidak semua ayat Al-Qur’an diturunkan karena adanya suatu peristiwa atau karena suatu pertanyaan. Ada
diantara ayat al-Qur’an yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab. Seperti
kewajiban muslim, mengenai akidah dan syari’at Allah SWT dalam kehidupan umat
manusia.[3]
Analisis kritis
Kekurangan
-
Semua ayat-ayat Al-Qur’an yang Allah turunkan
pasti mempunyai sebab,
yaitu untuk pedoman seluruh kehidupan manusia.
-
Sebab turunnya ayat Al-Qur’an tidak hanya
berkisar pada dua hal. Sebab Ayat Al-Qur’an diturunkan memang sebagai wahyu
dari Allah yang diberikan kepada Rasulullah untuk menuntun umat jahiliyah
sampai pada zaman sekarang.
Kelebihan
-
Asbabun Nuzul membantu umat manusia untuk mengetahui kandungan
ayat-ayat Al-Qur’an.
-
Berbagai cerita dari kalangan Rasulullah
akhirnya dapat menjadi pelajaran untuk kita di masa yang akan datang.
-
Di jelaskannya bahwa ayat Al-Qur’an diturunkan
karena adanya suatu peristiwa atau
karena suatu pertanyaan. Ada diantara ayat al-Qur’an yang diturunkan sebagai
permulaan tanpa sebab. Seperti kewajiban muslim, mengenai akidah dan syari’at
Allah SWT dalam kehidupan umat manusia.
B. Sebab Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an
Dalam
makalah ini akan dibahas beberapa ayat, yaitu : Surah al-Fatihah, Surah
an-Nisa’ dan Surah an-Nazi’at.
1.
Surah
al-Fatihah
Surah al-Fatihah adalah “Mahkota
Tuntunan Ilahi” dia adalah “Ummul Qur’an” atau “Induk Al-Qur’an”. Banyak nama
yang disandangkan kepada awal surah Al-Qur’an itu. Tidak kurang dari dua puluh
sekian nama. Dari nama-namanya dapat diketahui betapa besar dampak yang dapat
diperoleh bagi para pembacanya. Tidak heran jika dianjurkan untuk menutup doa
dengan al-hamdu li-llahi rabbila’lamin
atau bahkan ditutup dengan surah ini.[4]
Dari segi bahasa, kata as-Sab’u berarti tujuh.
Ini karena surah tersebut terdiri dari tujuh ayat, sedang kata matsani merupakan bentuk jamak dari kata mutsanna
atau matsna yang secara harfiah “dua-dua”. Yang dimaksud dengan
“dua-dua” adalah bahwa ia dibaca dua kali
setiap rakaat shalat. Jika makna ini yang dimaksud, maka penamaan tersebut
lahir pada awal pada masa Islam, ketika setiap shalat baru terdiri dari dua
rakaat atau karena surah ini turun dua kali, sekali di Mekkah dan sekali di
Madinah. Bisa juga kata “dua-dua” dipahami dalam arti “berulang-ulang”,
sehingga surah ini dinamai demikian, karena dia dibaca berulang-ulang dalam
shalat atau di luar shalat, atau karena kandungan pesan setiap ayatnya
terulang-ulang dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang lain.[5]
Ayat-ayat surah ini mengandung pujian dan
pengajaran bagaimana memuji Allah, yakni dengan mengkhususkan segala macam
pujian kepada-Nya dan dengan menyebut nama-nama-Nya yang paling dominan yaitu, ar-Rahman
dan ar-Rahim. Surah ini juga memuat
pengakuan akan kemutlakan kekuasaan dan pembalasannya di hari kemudian.[6]
Selanjutnya pertunjuk kepada manusia bagaimana
bermohon dan apa yang seharusnya ia mohonkan, yakni agar diantar menuju jalan
luas dan lurus yang pernah ditempuh oleh mereka yang sukses, bukan jalan
orang-orang yang sesat karena tidak mengetahui kebenaran, dan tentu bukan juga
cara hidup mereka yang telah mengetahui kebenaran, tetapi enggan menelusurinya.
Dengan demikian, jika kita bermaksud mengelompokkan ayat-ayat al-Fatihah ini,
maka kita dapat berkata bahwa kelompok pertama berbicara tentang Allah dan
sifat-Nya, sedang kelompok kedua merupakan permohonan yang diajarkan Allah
kepada hamba-hamba-Nya.
Al-Fatihah nama-namanya antara lain adalah Ummu
al-Kitab, (Induk Al-Qur’an), al-Asas (Asas segala sesuatu), al-Matsani (yang
diulang-ulang), al-Kanz
(perbendaharaan), asy-Syafiah (penyembuhan), al-Kafiah (yang mencukupi),
al-Waqiyah (yang melindungi), al-Ruqiah (mantera), al-Hamd (pujian), asy-Syukr
(syukur), ad-Du’a (doa), dan as-Shalat.
Kesemua nama itu al-Biqa’i mengandung serta berkisar
atas sesuatu yang tersembunyi yang dapat mencukupi segala kebutuhan, yaitu
pengawasan melekat. Dia adalah pembuka segala kebaikan, asas segala ma’ruf
tidak dinilai sah kecuali bila diulang-ulang. Dia adalah perbendaharaan
menyangkut segala sesuatu. Dia menyembuhkan segala macam penyakit serta
mencukupi manusia, mengatasi segala keresahan serta melindunginya dari segala
keburukan, dan menjadi mantera menghadapi segala kesulitan.[7]
Surah inilah yang merupakan ketetapan bagi
pujian yang mencakup segala sifat terhadap Allah mengandung pengagungan,
pemberi nikmat dan dia pula yang merupakan inti doa, karena doa adalah
menghadapkan diri kepadanya. Sedang doa
yang teragung tersimpul didalam hakikat shalat. Tujuan utama dari surah
al-Fatihah adalah menetapkan kewajaran Allah SWT. Inilah tujuan utama dari inti surah al-Fatihah.[8]
Analisis
kritis
Kekurangan
-
Belum jelasnya makna dari kata “dua-dua”
-
Tidak jelasnya tempat Surah al-Alfatihah
diturunkan
-
Belum jelasnya makna tentang surah al-Fatihah
-
Belum jelasnya mengenai “Dia adalah pembuka
segala kebaikan, asas segala ma’ruf tidak dinilai sah kecuali bila diulang-ulang”.
Kelebihan
-
Dijelasknnya kandungan surah al-Fatihah yakni, mengandung
pujian dan pengajaran bagaimana memuji Allah, yakni dengan mengkhususkan segala
macam pujian kepada-Nya dan dengan menyebut nama-nama-Nya yang paling dominan
yaitu, ar-Rahman dan ar-Rahim. Surah ini juga memuat pengakuan akan kemutlakan kekuasaan dan
pembalasannya di hari kemudian.
-
Dijelaskannya nama-nama dari Surah al-Fatihah
-
Dijelaskannya tujuan utama dari surah
al-Fatihah adalah menetapkan kewajaran Allah SWT. Sehingga memperkuat Asbabun Nuzul Surah ini.
2.
Sebab Turunnya Surah an-Nisa’
Surah ini dinamai surah an-Nisa’. Nama ini
telah dikenal sejak masa Nabi saw. Aisyah ra, isteri Nabi saw. menegaskan bahwa
surah al-Baqarah dan surah an-Nisa’ turun setelah beliau kawin dengan Nabi saw,
iya juga dikenal dengan nama an-Nisa’ al-Kubra (an-Nisa yang besar) atau
an-Nisa’ ath-Thula (an-Nasa’ yang
panjang), kerena surah ath-Thalaq dikenal sebagai surah an-Nisa’ ash-Shugra
(an-Nisa’ yang kecil). Dinamai an-Nisa’ yang dari segi bahasa bermakna “perempuan”,
kerena ia dimulai dengan uraian tentang hubungan silaturahim, dan sekian banyak
ketetapan hukum tentang wanita, antara lain perkawinan, anak-anak wanita, dan ditutup
lagi dengan ketentuan hukum tentang mereka.
Kalau pendapat Aisyah di atas yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhari diterima, itu berarti bahwa surah ini turun setelah hijrah,
karena Aisyah baru bercampur dengan Nabi saw. setelah hijrah, tepatnya delapan
bulan sesudah hijrah. Bahkan para ulama sepakat bahwa surah an-Nisa’ turun
setelah surah al-Baqarah, dan ini berarti surah ini turun jauh sesudah hijrah.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa an-Nisa’ turun sesudah Ali-Imran, sedang Ali
‘Imran turun pada tahun ketiga hijrah setelah perang uhud, dan ini berarti
an-Nisa’ turun sesudah itu. Boleh jadi surah ini turun setelah peperangan
al-Ahzab yang terjadi pada akhir tahun keempat hijrah atau awal tahun kelima.[9]
Al-Biqa’i mengemukakan bahwa tujuan utama surah
ini adalah persoalan tauhid yang diuraikan dalam surah Ali ‘Imran, serta
ketentuan yang digariskan dalam surah al-Baqarah dalam rangka melaksanakan
ajaran agama yang telah terhimpun dalam surah al-Fatihah, sambil mencegah agar
kaum muslimin tidak terjerumus dalam jurang perpecahan.[10]
a. Kelompok 1 Ayat 1-10
1) Ayat 1
“Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu
dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Allah
memperkembangbiakan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (pelihara
pula) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kamu”.
Setelah
jelas persoalan kitab suci yang merupakan jalan menuju kebahagiaan, dan jelas
pula azas dari segala kegiatan yaitu tauhid, maka tentu saja diperlukan
persatuan dan kesatuan dalam azas itu. Nah, surah an-Nisa’ mengajak agar senantiasa
menjalin hubungan kasih sayang antar seluruh manusia. Karena itu, ayat ini
walau turun di Madinah yang biasanya panggilan ditujukan kepada orang yang
beriman.
Ya
ayyuhal ladzina amanu, namun demi persatuan dan kesatuan, ayat ini mengajak
semua manusia yang beriman dan yang tidak beriman: Hai sekalian manusia,
bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, yakni
Adam atau jenis yang sama, tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan antara
seorang manusia dengan yang lain, dan Allah menciptakan darinya, yakni dari
diri yang satu itu pasangannya, dan dari keduanya yakni dari Adam dan
isterinya, Allah memperkembangbiakan laki-laki yang banyak dan perempuan pun
demikian. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta
dan pelihara pula hubungan silaturrahim.
Jangan putuskan hubungan tersebut, karena apapaun yang terjadi Sesungguhnya Allah
terus menerus sebagaimana dipahami dari kata (كا ن
) kana- Maha Pengawas terhadap kamu.
Seperti
dikemukakan di atas, ayat ini sebagai pendahuluan untuk mengantar lahirnya
persatuan dan kesatuan dalam masyarakat serta bantu membantu dan saling menyayangi,
karena semua manusia berasal dari satu keturunan, tidak ada perbedaan antara
lelaki dan perempuan, kecil dan besar, beragama atau tidak beragama. Semua
dituntut untuk menciptakan kedamaian dan rasa aman dalam masyarakat, serta
saling menghormati hak-hak azasi manusia.[11]
Analisis
Kritis
Kekurangan
-
Tidak dijelaskannya sebab turunnya surah
an-Nisa’ hanya dijelaskan pengantar dari surah ini.
Kelebihan
-
Dijelaskannya nama-nama baik
surah an-Nisa’
-
Dijelaskannya tujuan
utama surah ini yakni agar sesama umat manusia untuk senantiasa menghormati,
menjalin komunikasi yang baik, sentiasa menciptkan kedamaian dan kasih sayang
antar sesame.
-
Dijelaskan pula
mengenai manusia diciptakan dari diri yang sama, artinya semua manusia didunia
ini sama tidak ada perbedaan, yang dapat membedakannya hanya amal ibadah yang
kita lakukan kepada Allah. Hal ini di maksudkan agar tidak ada diskriminasi
antar sesama, karena sejatinya semua manusia didunia ini diciptakan dari diri
yang sama yaitu Nabi Adam as dan istrinya.
-
Menjelaskan
bukti keadilan Allah SWT kepada para hambanya, walaupun tidak dijelaskan dalam
paparan diatas.
3.
Sebab Turunnya Surah an-Nazi’at
Surah ini merupakan salah satu surah yang
keseluruhannya ayat-ayatnya disepakati turun sebelum Nabi saw. berhijrah ke
Madinah. Namanya surah Wa an-Nazi’at, yakni dengan huruf wauw. Nama ini di angkat dari ayatnya
yang pertama. Namanya yang lain adalah as-Sahirah dan ath-Thammah.
Keduanya juga di angkat dari kata
yang disebut oleh ayat-ayatnya.
Banyak ulama menilai tujuan surah ini adalah
pembuktian tentang keniscayaan hari kebangkitan disertai dengan bukti-buktinya,
antara lain dengan uraian tentang pengamalan Nabi Musa as. dengan fir’aun serta
penggambaran tentang rububiyyah (pemeliharaan) dan pengaturan Ilahi menyangkut
manusia yang pada akhirnya menjadi dua kelompok besar, yaitu penghuni syurga
dan neraka.
Sayyid Quthub menulis bahwa surah ini merupakan
contoh dari sekian banyak contoh dari juz ini menyentuh hati manusia hakikat
akhirat, yakni tentang kedahsyatan dan keagungannya serta keniscayaannya sejak
semula dalam takdir ketetapan Allah bagi alam raya ini. Demikian juga tentang
pengaturan Ilahi bagi fase-fase dan langkah-langkah penciptaan itu di permukaan
perut bumi, kemudian di akhirat nanti yang merupakan akhir dari penciptaan itu.[12]
Tujuan utama surah ini, menurut al-Baqa’i,
adalah uraian tentang akhir perjalanan hidup manusia di pentas bumi ini dan keniscayaan
kebangkitan pada Hari Kiamat. Itu di gambarkan melalui pencabutan nyawa melalui
malaikat-malaikat mulia serta uraian tentang Fir’aun dan nabi Musa as. Tujuan
ini menjadi sangat jelas jika diperhatikan namanya yang lain, yaitu as-Sahirah
(Padang Mahsyar) dan ath –Thammah (Malapetaka).[13]
a.
Kelompok 1
1)
Ayat 1-5
”Demi
Pencabut-pencabut dengan keras, dan pengurai-pengurai dengan lemah-lembut, dan
para yang berpindah-pindah dengan cepat, lalu Pelomba-pelomba dengan kencang,
maka pengatur-pengatur urusan.”[14]
Akhir surah yang lalu diakhiri dengan uraian
tentang keinginan orang-orang kafir untuk tidak wujud sebagai manusia tetapi
sebagai tanah atau tidak dibangkitkan dari kubur dan tetap berada disana
menyatu dengan tanah, kini awal ayat di atas menguraikan tentang malaikat-malaikat
yang mencabut nyawa manusia baik yang mukmin maupun yang kafir.
Demikian
al-Biqa’i menghubungkan awal surah dengan yang lalu. Tentu saja, hubungan
tersebut didasarkan pada pemahaman bahwa ayat-ayat di atas berbicara tentang
malaikat-malaikat yang mengakhiri hidup seseorang, baik dengan mencabut keras
maupun dengan perlahan-perlahan nyawa seseorang.
Ayat-ayat
di atas menyatakan: Demi kelompok-kelompok malaikat Pencabut-pencabut nyawa
pendurhaka dengan keras, dan demi malaikat-malaikat Pengurai-pengurai, yakni
yang melepas ikatan nyawa orang-orang mukmin, dengan lemah lembut, dan demi
malaikat-malaikat yang berpindah-pindah dengan cepat guna melaksanakan tugasnya
atau untuk mengatur nyawa sang mukmin, lalu para malaikat-malaikat itu Pelomba-pelomba
yang mendahului selainnya dalam amal kebajikan atau mengantar nyawa sang kafir
dengan kencang, maka mereka Pengatur-pengatur urusan. Sungguh hari
Kebangkitan/Kiamat pasti akan datang.[15]
2) Ayat 6-9
“Pada
hari ketika berguncang-guncangan yang dahsyat, diikuti oleh yang
mengiring(nya). (Banyak) hati ketika itu sangat gentar, pandangannya
tertunduk.” Dengan ayat-ayat yang lalu Allah bersumpah bahwa hari kiamat
pasti akan datang. Ayat-ayat diatas menjelaskan keadaan hari itu saat kedatangannya.
Yakni itu terjadi pada hari ketika berguncang-guncangan yang dahsyat, yakni saat malaikat Israfil
meniup sangkakala tiupan pertama.
Ketika
itu, alam raya akan hancur dan semua yang bernyawa mati tersungkur. Lalu, itu
diikuti oleh tiupan yang mengiring-nya, yakni tiupan tiupan kedua di mana
semua yang telah mati di bangkitkan kembali oleh Allah swt. banyak hati itu
ketika sangat gentar, pandangannya masing-masing tertunduk karena diliputi oleh rasa hina dan duka.[16]
Bentuk
indefinite (nikarah) yang disertai dengan tanwin pada kata (قلو ب) qulub mengandung makna banyak. Memang banyak penghuni bumi
yang durhaka. Mereka itulah yang di maksud oleh ayat 8 di atas.[17]
Adapun
orang-orang mukmin, mereka terhindar dari rasa takut yang besar itu, sebagiamana
di tegaskan oleh firman-Nys pada QS. A-Anbiya’[21]: 103 Mereka tidak di
usahakan oleh kedahsyatan yang terbesar dan mereka di sambut oleh para
malaikat: “Inilah hari kamu yang telah dijanjikan kapada kamu.”Kata ( الرّاجفة ) ar-rajifah
terambil dari kata ( رجف ) rajafa yang berarti
berguncang dengan guncangan keras. Sedang, kata ( الرّادفة)
ar-radifah terambil dari kata ( ردف
) radifa yang berarti mengikuti atau berada di belakang (menyusul). Sementara
ulama memahami kata ini sebagai menunjuk guncangan langit, sedang yang menunjuk guncangan bumi.[18]
3) Ayat
10-14
Mereka
(kini) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan kepada
kehidupan yang semula? Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur
lumat?” Mereka berkata: “Itu kalau demikian adalah suatu pengambilan yang
merugikan.”Ia hanyalah dengan sekali bentakan, maka tiba-tiba mereka di Padang
yang luas.[19]
Setelah
ayat yang lalu menjalaskan banyak hati yang gentar dan pandangan yang tertunduk,
ayat di atas menjelaskan siapa yang keadannya demikian. Mereka adalah
yang kini dalam kehidupan dunia menolak keniscayaan Kebangkitan dan terus
menerus berkata:”Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan
kepada kehidupan yang semula? Karena ini tidak mereka percayai, sekali lagi
mereka ulangi pertanyaan sambil mengejek dan mengajukan dalihnya bahwa: “Apakah
benar-benar kami akan dibangkitkan kembali apabila kami telah menjadi
tulang belulang yang hancur lumat? Yakni, padahal jasad kami telah
bercampur dengan tanah dan tulang belulang yang kami telah lapuk dan hancur?
”Dengan
nada menolak dan mengejek, Mereka berkata tegas:”Itu yang sungguh sangat sulit
diterima akal kalau benar-benar demikian, yakni akan terjadi maka ia adalah
suatu pengembalian yang merugikan padahal kami bukanlah orang-orang yang
merugi.[20]
Jika demikian, ia tidak mungkin terjadi.”
Allah menampik dugaan mereka dengan menyatakan bahwa sungguh pengembalian itu
adalah haq dan pasti terjadi. Ia sangat mudah dilakukan Allah, Ia hanyalah
dengan sekali bentakan, yakni tiupan oleh malaikat atas perintah Allah, maka
dengan sangat cepat dan tiba-tiba mereka semua makhluk yang telah mati
terhimpun di padang mahsyar yang luas.
Kata
nakhirah terambil dari kata nakharah, yaitu lubang yang dalam
sehingga bila ditiup angin terdengar suara berdesing keluar darinya. Jika tulang-belulang
dilukiskan dengan kata tersebut yng dimaksud adalah kerapuhannya sehingga
tersentuh sedikit saja yang hancur berantakan, bahkan tanpa disentuh pun ia
lumat dengan sendirinya.
Ucapan
pengingkar keniscayaan kiamat:” Itu kalau demikian adalah suatu pengembalian
yang merugikan di pahami oleh sementara ulama sebagai cemoohan dari mereka kepada
kaum muslimin. Karena itu menurut Ibn Asyur-Lafazh berkata diulangi. Yang
pertama (ayat 10) tujuannya adalah mengingkari dan yang kedua (ayat 12)
mengejek. Ayat 10 menggunakan kata kerja masa kini dan datang (yakuluna)
untuk menjelaskan bahwa itu selalu mereka ucapkan karena itulah dalih mereka
menolak keniscayaannya dan ayat 12 menggunakan kata kerja masa lampau (qalu)
karena ucapan ini semacam tujuan mengejek hanya sekali-kali mereka ucapkan. [21]
Kata
al-Hafirah ada yang memahaminya dalam arti awal sesuatu atau jalan yang
pernah dilalui. Kata ini terambil dari kata hafara yang berarti menggali, seakan-akan pejalan
kaki menggali tanah akibat bekas-bekas kakinya yang terdapat dibumi.
Seseorang
yang kembali dijalan yang dilaluinya semula adalah dia yang menginjak kembali
ke tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Atas dasar inilah sehingga al-Hafirah
diartikan dengan hidup kembali di dunia. Ada juga yang memahaminya dalam arti
tanah yang digali, dengan kata lain kubur, dan kata fi dipahaminya dalam arti dari
sehingga ayat 10 diatas mereka pahami dalam arti dikembalikan dari kubur, yakni
dihidupkan.[22]
Kata
as-sahirah adalah permukaan bumi atau padang pasir yang luas. Kata ini
terambil dari kata as-sahar, yakni tidak tidur malam. Biasanya di padang
pasir yang terbuka seseorang tidak dapat tidur karena takut sehingga selalu
waspada dan berjaga-jaga. Dari sini, padang yang luas dinamai sahirah.[23]
Analisis
Kritis
Kekurangan
-
Belum dijelaskan uraian
tentang Fir’aun dan nabi Musa as
-
Belum ada
kesimpulan mengenai pembahasan di akhir uraian
-
“Ayat ini uraian
tentang akhir perjalanan hidup manusia di pentas bumi ini dan keniscayaan
kebangkitan pada Hari Kiamat”. Padahal diayat awal ada pembahasan tentang
pencabutan nyawa oleh para malaikat.
Kelebihan
-
Dijelasknnya mengenai ketegasan
Allah SWT mengenai hari kiamat.
-
Dijelaskannya kata kunci dari
ayat-ayat tersebut seperti kata as-sahar untuk memudahkan pemahaman terhadap makna
ayat.
-
Diterangkan bahwa Hari kiamat
pasti akan terjadi. Sebgai pengingat untuk manusia agar tidak semena-mena
berada didunia yang pana ini
C.
Manfaat
dan Fungsi Asbabun Nuzul
Ada
beberapa manfaat dari ilmu Asbabun Nuzul, antara lain :
1.
Dapat membantu
dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, dan menghilangkan keraguan tentangnya.
2. Dapat mengetahui hikmah rahasia yang terkandung
dalam pengsyari’atan hukum dalam suatu ayat Al-Qur’an.
3. Asbabun Nuzul sangat bermanfaat bagi orang
mukmin dan yang bukan mukmin. Adapun bagi orang mukmin akan semakin kuat
keimanannya dan jelas baginya hikmah disyari’atkannya suatu hukum oleh Allah
SWT.
Sedangkan
bagi yang bukan mukmin dapat mengetahui lewat Asbabun Nuzul ini, bahwa syari’at
islam itu sesungguhnya mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan bagi
pemeluknya.
4. Menentukan hukum dengan sebab.
5. Mengetahui orang atau kelompok yang menjadi
kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan apabila terdapat keragu-raguan.
karena jika kita tidak mengetahui Asbabun Nuzul bisa jadi kita mentakhsiskan
ayat yang seharusnya ‘amm atau sebaliknya.
6. Dapat memudahkan dalam memahami Al-Qur’an serta
menguatkan ingatan terhadap hukum dari suatu ayat, dengan karena mengetahui
sebab dan akibatnya, kapan dan kepada siapa ayat tersebut diturunkan, dan
sebagainya.[24]
Analisis
kritis
Kekurangan
-
Masih sedikit diuraikan mengenai
manfaat dan fungsi Asbabun Nuzul, padahal masih banyak manfaat dan fungsinya.
Kelebihan
-
Manfaat dan Fungsi Asbabun Nuzul
sudah diuraikan dengan rinci.
-
Mudahnya memahami dari manfaat
dan fungsi dari Asbabun Nuzul
-
Dapat menambah keyakinan kita
terhadap kitab suci Al-Qur’an
-
Memberikan pengetahuan kepada
muslim maupun nonmuslim terhadap Al-Qur’an lewat Asbabun Nuzul
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Menurut bahasa Asbabun Zuzul berasal dari dua
kata yaitu asbabun dan nuzul. Asbabun artinya sebab atau karena, sedangkan
nuzul artinya turun. Jadi asbabun nuzul adalah sebab-sebab turunnya ayat
Al-Qur’an. Adapun menurut istilah syara’ Asbabun nuzul adalah Suatu hal yang
karenanya Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan suatu hukum pada masa hal itu
terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.
2. Sebab
ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan untuk memberikan penjelasan kepada umat manusia
agar lebih memahami kandungan dan maksud dari ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti pada
surah al-Fatihah menjelaskan tentang menetapkan kewajaran Allah SWT. Pada surah
an-Nisa’ mengajak agar senantiasa menjalin hubungan kasih sayang antar seluruh
manusia serta surah an-Nazi’at berisi uraian tentang akhir perjalanan hidup
manusia di pentas bumi ini dan keniscayaan kebangkitan pada Hari Kiamat.
3. Beberapa
manfaat dan fungsi ilmu Asbabun Nuzul, antara lain :
a. Dapat membantu dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an,
dan menghilangkan keraguan tentangnya.
b. Dapat mengetahui hikmah rahasia yang terkandung dalam
pengsyari’atan hukum dalam suatu ayat Al-Qur’an.
c. Asbabun Nuzul sangat bermanfaat bagi orang mukmin dan yang bukan
mukmin. Adapun bagi orang mukmin akan
semakin kuat keimanannya dan jelas baginya hikmah disyari’atkannya suatu hukum
oleh Allah SWT. Sedangkan bagi yang bukan mukmin dapat mengetahui lewat Asbabun
Nuzul ini, bahwa syari’at islam itu sesungguhnya mendatangkan manfaat dan
menolak kemudharatan bagi pemeluknya.
B. Saran
Sebagai
manusia sudah sepantasnya untuk mempelajari ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an seperti
ilmu Asbabun Nuzul. Sebab dengan mengetahui ilmu-ilmu Al-Qur’an, kita dapat memahami kandungan, makna serta tujuan dari ayat-ayat
tersebut. Dan mempelajari ilmu Al-Qur’an juga sebagai ibadah kita kepada Allah
kerena dari ilmu inilah berbagai pengetahuan kita dapatkan sebagai bekal, acuan
serta pedoman kita untuk mencari ridho Allah SWT serta mencari keselamatan baik
di dunia maupun di akhirat.
Daftar
Pustaka
As-Sayuthi, Jalaludin,sebab turunnya ayat
Al-qur’an,Jakarta: Darut-Taqwa,2008,hlm9-10.
Shihab,
Quraish.2000.Tafsir Al-Misbah volume 1.Jakarta:Lentera Hati.
Shihab,
Quraish.2000.Tafsir Al-Misbah volume 2.Jakarta:Lentera Hati.
Shihab,
Quraish.2000.Tafsir Al-Misbah volume 15.Jakarta:Lentera Hati.
[1] http://www.akidahislam.com/2016/11/pengertian-fungsi-dan-macam-macam.html,
14 September 2017(20.00 WIB).
[2]
Jalaludin As-Sayuthi,sebab turunnya ayat Al-qur’an,Jakarta:
Darut-Taqwa,2008,hlm9-10.
[3] http://www.akidahislam.com/2016/11/pengertian-fungsi-dan-macam-macam.html,(17
September 2017 10.00 WIB)
[4] M.
Quraish Shihab,tafsir Al-MIsbah volume 1,Jakarta:Lentera
hati,2000,hlm.3.
[5] M.
Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 1,Jakarta:Lentera Hati,2000,hlm.4.
[6] M.
Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 1,Jakarta:Lentera
Hati,2000,hlm.9.
[7] M.
Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 1,Jakarta:Lentera
Hati,2000,hlm.9.
[8] M.
Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 1,Jakarta:Lentera
Hati,2000,hlm.9.
[9] M.
Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 2,Jakarta:Lentera
Hati,2000,hlm.311.
[10]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 2,Jakarta:Lentera
Hati,2000,hlm.312.
[11]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 2,Jakarta:Lentera
Hati,2000,hlm.313-314.
[12]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.35.
[13]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.36.
[14]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera Hati,2002,hlm.38.
[15]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.38.
[16]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.41.
[17]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.41.
[18]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.41-42.
[19]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.42-43.
[20]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.42-43.
[21]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.44.
[23]
M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah volume 15,Jakarta:Lentera
Hati,2002,hlm.44.
[24] http://www.akidahislam.com/2016/11/pengertian-fungsi-dan-macam-macam.html,
14 September 2017.
Komentar
Posting Komentar